septiayu

Hakikat Puasa


Kawan, pernah kah sedikit waktu kita dialokasikan untuk berpikir. Kenapa dalam dua belas (12) bulan, Allah Swt. ciptakan satu bulan khusus untuk berpuasa. Kenapa bukan sepekan setiap bulannya, atau setiap pekan dua kali terus menerus, toh secara jumlah tidak akan terlalu jauh berbeda, bukan?

Atau selama ini saking ‘berimannya’ kita kepada Al-Qur’an maka rasa penasaran itu hilang digantikan sami’na wa atho’na (kami dengar dan kami patuh). Dalam konteks keimanan tidak ada salahnya sikap sami’na wa atho’na dilakukan dan dikhidmatkan dalam keseharian dan semua aktivitas. Tapi dalam konteks keilmuan dan sebagai manusia yang memiliki akal, hendaknya pertanyaan-pertanyaan seperti ini tidak dipendam dalam diri. Apalagi sebagai orang tua, ketika anak mempertanyakan hal seperti ini seyogianya bukan hardikan yang menjadi jawaban. Melainkan diskusi keluarga yang akan menjadikan narasi keilmuan menjadi nutrisi bagi keluarga.

Sejujurnya penulis pun belum memahami makna dari pertanyaan di atas. Tapi, ada yang ingin disampaikan dalam tulisan ini. Tentang kenapa puasa itu dibutuhkan oleh setiap insan sebagaimana kewajiban bagi setiap mukmin yang tertera dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah: 183-186.

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang yang bertakwa (183). …….”

Dari potongan ayat Al-Qur’an di atas dapat digaris bawahi bahwa di bulan ramadan ini ada dua poin penting (selain berpuasa pastinya) yakni Al-Qur’an (185) dan berdo’a (186). Mari membahasnya lebih dalam.

Berpuasa itu wajib sebagaimana sholat diwajibkan. Sebagaimana puasa juga merupakan rukun islam, artinya adalah kewajiban bagi setiap muslim. Bahkan perlu dipahami ketika Allah menggunakan kata ‘Mu’min’ dalam kalam-Nya, maka ayat tersebut mengandung hal yang penting atau larangan yang berat sebagaimana disampaikan oleh mufassir terkenal Abdullah bin Mas’ud.

Tapi sebagaimana penulis sampaikan di atas, ada dua poin penting yang terkandung dalam rangkaian ayat berpuasa yang setiap mu’min harus sadari dengan utuh. Di ayat Al-Baqarah (185) tertulis, “Yaitu, sebulan Ramadan, yang diturunkan padanya Al-Qur’an…” Dalam hal tanggal dan waktu detail kapan Al-Qur’an diturunkan memang para ulama terdahulu berbeda pendapat atasnya. Tapi ulama kontemporer dan terdahulu semua sepakat bahwa Al-Qur’an awalnya diturunkan di bulan Ramadan. Maka menjadi penting bagi setiap mu’min yang menjalankan ibadah puasa untuk lebih aware terhadap Al-Qur’an.

Sebagaimana Rasulullah saw. contohkan dalam setiap ramadannya. Bahwa kedekatan beliau dengan Al-Qur’an bertambah sangat dibanding di hari-hari lainnya. Artinya, ini selaras dengan perintah puasa. Bahwa di bulan Ramadan, di mana Al-Qur’an turun hendaknya setiap mu’min semakin dekat dan intim dengan Al-Qur’annya.

Bukankah di agama lain ada ajaran yang menyampaikan bahwa tidak menikah adalah sebuah nilai plus agar bisa mencapai derajat kedekatan dengan Tuhannya lebih tinggi? Tapi islam mengajarkan hal yang lebih moderat. Sebulan penuh dibatasi dan dijaga hal-hal yang tadinya halal (makan, minum, berbicara, berhubungan badan dengan pasangan, dll) menjadi haram agar setiap mu’min mengedepankan ibadah dan taqarrub kepada Rabbnya.

Maka sebuah kerugian jika di bulan yang mulia ini, bahkan nama lain dari bulan Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, Ketika seorang mu’min jauh interaksinya dengan Al-Qur’an. Tidak membacanya lebih banyak dari sebelumnya. Bahkan, tidak sama sekali menggubris Al-Qur’an dalam kesehariannya. Naudzubillah. Semoga kita diberikan kemudahan untuk terus membersamai Al-Qur’an dengan segala keterbatasan dan aktivitas yang dijalankan.

Kalau di ayat 185 membicarakan tentang Al-Qur’an, maka ayat selanjutnya Allah sengaja sekali menyampaikan kepada hamba-Nya, bahwa di bulan Ramadan, perbanyaklah berdo’a kepada-Nya.

“Dan apabila hamba-hambaKu itu bertanya kepada engkau dari hal Aku, maka sesungguhnya Aku adalah dekat. Aku perkenankan permohonan orang-orang yang memohon apabila dia memohon kepadaKu. Maka hendaklah mereka sambut seruanku dan hendaklah mereka percaya kepadaKu supaya mereka beroleh kecerdikan.” (QS2:186)

Pesan yang terkandung di dalam ayat di atas sangat jelas dan terang. Selain interaksi dengan Al-Qur’an yang mesti diperbanyak. Hendaknya interaksi kita dengan Rabb dalam hal permohonanan/doa diperbanyak kuantitasnya. Karena bulan Ramadan adalah bulan pernuh rahmat, maka sayang sekali kalau dilewatkan dengan foya-foya atau tertawa sia-sia.

Bukankah kita lihat di media-media massa yang ada, menjelang berbuka, di mana dipercaya itu adalah waktu mustajab (dikabulkan) untuk berdoa, tapi televisi dan sosial media lainnya ramai oleh gelak tawa dan sia-sia scroll layer belaka. Sekedar mengisi luang dari dahaga yang menyerang, katanya. Atau mengisi ulang semangat karena penatnya beraktivitas dengan komedi-komedi jenaka yang sialnya itu menghabiskan waktu untuk berdoa kepada Tuhan Semesta Alam.

Sayangnya itu tidak hanya menjelang berbuka. Sebagaimana kita percaya, bahwa di dalam sahur itu ada berkah. Saat makannya, saat sholat malamnya, saat berzikir memohon ampunnya, dan masih banyak lainnya. Tapi, lagi-lagi waktu kita habis oleh dunia. Seakan sebelas (11) bulan lainnya tidak cukup untuk memberi kesenangan atasnya.

‘Mereka’ telah berhasil mengaburkan waktu-waktu penting tersebut selama ini untuk berdoa dan menangis atas dosa-dosa yang telah diperbuat silam. Semoga lewat tulisan ini, kita sadar bahwa momentum ramadan dihadirkan oleh Allah satu bulan lamanya untuk membersihkan diri. Mengembalikannya ke kondisi pabrik (fitrah). Sebagaimana reset factory yang ada di handphone, maka kedekatan dengan Tuhan kita pasca ramadan adalah sebagaimana kita mampu mengatur semua aktivitas tersebut selama bulan ramadan.

Harapan agar kita menjadi orang bertakwa lagi-lagi tergantung sedalam apa kita mampun merest gawai (tubuh) kita di bulan ramadan ini. Apakah semakin dekat dengan Al-Qur’an? Atau malah secukupnya yang penting pernah membaca. Apakah semakin sering merintih atas dosa-dosa yang pernah diperbuat, atau malah masih asik tertawa menjelang waktu berbuka dan di 1/3 malam tempat do’a diistijabah-Nya. Lagi-lagi hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya.

Marhaban ya Ramadan. Semoga sebagai mu’min, kita diberikan kemudahan untuk terus beribadah, mendapat hidayah, hikmah dan inayah dari Allah. Agar keluar dari ramadan ini, kita bisa menjadi hamba-hamba pilihan-Nya yang terlahir kembali (sebagaimana setelah pabrik gawai).

Wallahu’alam bishowwab.
septi ayu azizah
Septi Ayu Azizah penyuka literasi, volunteer dan pendidikan. Penikmat jalan-jajan ini, lahir di Banjarnegara, ber-KTP Jakarta, tinggal di Depok. Menulis bagi Septi adalah mencurahkan asa agar bermanfaat tentunya. Aktivitas Septi sebagai guru, pegiat literasi sekolah, dan tentunya menjadi istri penuh waktu.

Related Posts

Posting Komentar