septiayu

Ngeblog; Passion atau Iseng?

nulis-di-blog
Lama sudah kumencari, apa yang hendak kulakukan. Segala titik kujelajahi, tiada satu pun kumengerti. Tersesat kah aku di samudera hidupku. Kata-kata yang kubaca, terkadang tak mudah kucerna. Bunga-bunga dan rerumputan, bilakah kau tahu jawabnya. Inikah jalanku, inikah takdirku.” ~Lentera Jiwa-Nugie.

Iya, itu mah lagu Lentera Jiwa punyanya Bang Nugie. Digambarkan Lentera Jiwa itu sama dengan passion. Bicara soal passion, Akika punya cerita. 

Eit, sebelum ke cerita, kita bincang sejenak soal passion. “Passion gue nulis.” Widiw, pede kali mengumumkan pada dunia, kalau diri punya passion nulis. Emang passion apa sih? Merangkum dari beberapa literatur, ringkasnya passion adalah perasaan yang sangat kuat seseorang pada sesuatu. Passion seringkali menjadi akar dari berbagai hal sebelum seseorang melakukan sesuatu, atau minat yang kuat seseorang atas suatu hal. Gitu kah pengertian passion? Simak cerita ini dulu deh. 

Dibaca nggak dibaca, bakal tetep nulis. Gitu teriak gue berkali-kali. Iya, dulu pernah punya niatan nulis biar dibaca orang, biar menginspirasi orang. Tapi, baca tulisan sendiri yang seringkali kurang bermutu, cuma coretan curhatan sekali waktu, sadarlah diri ini, emanglah nggak layak tulisan Hayati dibaca orang. 

Sedih? Heuheu, awalnya sedih banget. Sempat terkejut-kejut senang sewaktu nulis serial tentang sabar dibagikan banyak orang. Hehe, ada faedahnya juga itu tulisan. Tapi ya, cuman sekali itu. Kata seorang teman, “Makanya sep, kalau nulis bahasanya yang gampang-gampang aja, nggak usah terlalu nyastra, nggak mudeng malah bacanya.” Coba praktekin nasihatnnya, eh, malah ngrasa nggak jadi diri sendiri. 

Untungnya sekarang udah tobat. Nulis buat apa si? Ya udah kalau mau nulis mah nulis aja, nggak usah khawatir dibaca atau nggak dibaca, hihi. Mula-mula punya pikiran nulis buat dibaca orang itu sewaktu awal-awal kuliah. Berawal dari ikut training motivasi (biasalah mahasiswa baru, suka banget ikut training, apalagi yang gratisan). Si mbak trainernya bilang, “Passion itu, ketika orang lain mengagumi karya kamu. Ketika karya kamu punya nilai di mata orang lain.” Sejak saat itu selalu nyari, ngejar-ngejar prestise. Pokoknya kalau ikut lomba musti-harus-kudu menang, kalau nulis harus banyak yang nge-like. Gituuu terus sampai sekian lama. 

Sekitar semester lima masa kuliah, gue terpuruk-terjatuh meratapi kegagalan demi kegagalan. Karya-karya nggak diakui. Ide-ide gue katanya terlalu gila, aneh, begitu kata juri di setiap lomba yang diikuti. Dosen-dosen sastra juga, kata mereka tulisan gue nggak banget. Pundunglah gue dari dunia tulis menulis. Benci sama diri sendiri. Gini amat si mau berkarya. 

Saat itulah gue mulai cari-cari aktivitas lain buat nyari tahu siapa diri ini, apa yang dimau. Terlambat? Yah, di usia segitu bisa jadi gue udah amat terlambat. Mau gimana lagi, kalau pakai hitung-hitungan matematika gue terlambat terus kan? Anggap aja itu waktu yang tepat dan terbaik menurut-Nya, hibur diri. Dalam perjalanan pencarian kitab suci untuk mengenal jati diri macam Kera Sakti, gue ketemu lagi sama minat buat nulis. Setiap perjalanan atau aktivitas yang dilakuin selalu aja tangan gatel buat nulis. Minimal nulis status, hoho. Dari situ mikir, kayaknya emang gue ditakdirkan buat nulis, hahaha, pede. 

Sekitar semester tujuh bertemulah sama bapak-bapak Stifin yang udah gue anggap sebagai guru (udah macam Sun Gokong ketemu Guru Tong? Hoho). Sewaktu tes Stifin (itu loh, tes mesin kecerdasan yang cuma nempelin jari-jari, trus dari sidik jari ketahuan deh apa mesin kecerdasaan yang dominan dalam diri, penasaran? Hubungi gue, nanti gue antar tes Stifin, hoho). Hasil tes stifin gue adalah, Intuiting Ekstrofert. Yup, intuiting, mesin kecerdasan dengan kemistri pada “KATA”, kata-kata seolah berhamburan dari langit dan terperangkap dalam diri si Intuiting. Nahloo, kan gue banget kan, hehe. 

Mulailah si Bapak Stifin nanya, “Kuliah sastra, suka nulis, kecerdasan intuiting, trus apa masalahnya?” 

“Masalahnya nggak ada yang baca tulisan saya Pak.” 

“Harus dibaca?” 

“Ya terus, ngapain saya nulis kalau nggak ada yang baca Pak? Kata trainer, Passion itu kalau orang lain udah ngasih nilai karya kita, kalau orang memuji karya kita.” Kata gue sambil nunjuk-nunjuk jari niruin gaya trainer. 

“Heh! siapa yang bilang gitu (bapak yang sabar mulai muntab), passion itu mau dihargai nggak diharagi, orang akan terus berkarya, nggak perlu nunggu pujian. Penting enjoy, nikmati tiap karya yang dilahirkan.” 

“Berarti sayaa...” 

“Nulis ya nulis aja mbak. Ingat! yang kita kejar itu value, nilai manfaat. Selama yang kita tulis baik, akan ada manfaat yang berdatangan. Kalau yang kita kejar pride, kita akan habis.” 

Nah, dari situ sob, gue mulai sadar, ya ampun setalah ribuan pengembaraan akhirnya ketemu juga kan. Kesadaran yang mulai berdentang inilah yang mendatangkan keyakinan, gue nulis karena mau jadi manusia yang bermanfaat. Dan itu menjadi The Big Why gue buat terus nulis dan ngeblog. 

Kenapa Blog? 

Eh, emang kalau mau nulis harus di blog? Buat orang macam gue yang butuh tempat buat aktualisasi diri sih gitu, ngeblog. Kenapa gue pilih blog? Karena blog udah macam rumah. Rumah tempat gue berasal, tempat gue menjemput kehidupan, dan temapat gue mengakhiri kehidupan. Simpelnya, blog bakal merekam tiap jejak kata yang pernah tertulis, sebagai warisan buat anak cucu. 50 tahun yang akan datang tulisan ini bakal jadi naskah kuno yang bisa diteliti, konsep filologi begitu kan. Gue mau blog gue bermanfaat, setidaknya buat diri gue sendiri, syukur-syukur bisa manfaat buat orang lain juga. 

Masalahnya, bujuuug belum apa-apa udah ketemu masalah aja nih. Ya, mau gimana lagi hidup pasti ada masalah yang datang berganti. Masalahnya, yakin nggak sih bisa konsisten buat ngeblog? Buat merawat rumah, menghias rumah. Dududu, ini nih, yang harus diusut sampai dalam, sedalam samudera. Jangan-jangan macam kebiasaan lainnya yang ramenya di awal. Jadi, gimana nih buat konsisten dan semangat ngeblog? Bisa simak 5 tips ngeblog ala Septi ini guys.

tips blog untuk pemula


1. Manajemen Waktu 

Konsisten itu selalu dibenturkan dengan waktu. Kenapa nggak konsisten nulis di blog? Karena nggak punya waktu? Semua bisa ngeblog secara konsisten, asalkan punya manjemen waktu yang baik. Iya, saat kita mampu mengelola dan tahu cara manajemen waktu agar lebih produktif. 

Kemampuan untuk mengatur waktu dengan baik sangat dibutuhkan oleh semua orang, termasuk bagi kita yang berkecimpung di dunia per-blog-an. Pastinya yang namanya blogger doi sendiri yang mengatur kapan waktunya bikin konten, kapan waktunya posting atau update. Tiap hari, seminggu sekali, sebulan sekali atau bahkan setahun sekali posting? Jawabnya ada di diri masing-masing. 

Nah, manajemen waktu ini, bisa banget diatur kalau kita punya jadwal tetap ngeblog. Misal selalu menyediakan waktu dalam sehari dua jam buat otak-atik blog. Sudah punya jadwal? Disiplin dong sama jadwal. Ada masanya blogger harus lebih keras dengan dirinya kan? 

2. Menetapkan Tujuan 

What’s your purpose of blogging? Nah, yang satu ini gue dapat ilmunya dari kelas Blogspedia Coaching for Newbie besutan Coach Marita. Dari sini gue jadi tahu, kalau ngeblog tuh perlu perencanaan, dan rencana yang paling pertama dan utama adalah dimulai dari menemukan The Big Why Ngeblog. Apa tujuan besar kita ngeblog? Apa alasannya? Namanya tujuan bisa bebas dong, buat menambah pundi rupiah, ruang curhat, ruang berbagi, apa pun, tiap orang pasti punya alasan masing-masing. Jadi, apa tujuanmu ngeblog?

3. Content Plan 

Punya content plan. Ah, nyatanya apa pun pekerjaan kita, selama kita mampu merencanakan dengan baik akan terlaksana dengan baik juga kan? Kan kata orang-orang, “kalau kita gagal merencanakan berarti kita sedang merencanakan kegagalan.” Berarti harus punya perencanaan yang matang dong buat bisa bertahan dengan apa pun dunia yang ingin kita geluti? Salah satunya ngeblog. 

Nggak harus ribet kok kalau mau merencanakan membuat konten. Semua kembali lagi kepada tema besar blog yang akan dibuat. Misal tema yang lagi kekiniaan tentang gadget, maka sesering mungkin diupdate tentang review handphone. Membandingkan satu gadget dengan gadget lainnya. Bahas sampai detail tentang spesifikasi gadgetnya dan banyak lainnya. 

Semakin spesifik dan orisinil konten yang dibuat maka akan semakin menarik untuk dibaca oleh netijen. Nah, semua balik lagi ke tema besar blog kita ya, kecuali kalau di blog itu mau dimasukkin semua jenis konten itu beda urusan lagi. 

4. Cari Sparring Partner 

Hal terpenting selanjutnya adalah menemukan sparring partner. Bisa dipastikan dalam setiap aktivitas ada lawan bermain (sparring partner) yang tujuannya untuk menambah semangat dalam meningkatkan kapasitas diri. Pun dalam blogging, sering-seringlah berselancar di dunia maya atau blogwalking. Cari sparring partner yang udah establish dan oke banget, jadiin target untuk bisa seperti dia pencapaiannya, kalau bisa lebih malahan. Nanti kalau udah bisa melebihi kualitas sparring partner tersebut, cari lagi sparring partner lainnya yang kualitasnya lebih tinggi dari kualitas diri kita saat itu. 

Gitu aja terus! Pada intinya pastikan diri kita punya teman untuk mengaca kalau kualitas diri gak ada apa-apanya di banding orang lain yang udah oke. Jangan cepat puas, dan jangan mau terlalu menikmati keadaan diri. Kadang memang perlu banget untuk bersyukur atas kondisi diri, tapi kalau untuk kebaikan kita bisa melakukan lebih, kenapa tidak? 

5. Enjoy!

Segala hal terasa mudah kalau kita menikmatinya bukan? Bertemu kesulitan? Ya, nikmati aja bos. Kan, bersama kesulitan, selalu ada kemudahan.

Oke deh, segitu dulu cerita tentang ngeblog dan seuplik tips buat konsisten dan semangat ngeblog. Jadi, kalau nulis dan ngeblog bermula dari iseng, jangan-jangan memang itu passion. Follow your passion.
“Kubiarkan kumengikuti suara dalam hati yang slalu membunyikan cinta. Kupercaya dan kuyakini bunyinya nurani, menjadi penunjuk jalanku. Lentera jiwaku.”


septi ayu azizah
Septi Ayu Azizah penyuka literasi, volunteer dan pendidikan. Penikmat jalan-jajan ini, lahir di Banjarnegara, ber-KTP Jakarta, tinggal di Depok. Menulis bagi Septi adalah mencurahkan asa agar bermanfaat tentunya. Aktivitas Septi sebagai guru, pegiat literasi sekolah, dan tentunya menjadi istri penuh waktu.

Related Posts

12 komentar

  1. Ternyataaa yaa...pinter nulis to. Kok nggak ketauan dr dulu ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ngaku-ngaku aja itu bu ustazah. hehe. Meluncur ke blognya Bu Rita

      Hapus
  2. Ini tulisan mastah. Gaya bahasa dan layoutnya keren!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih belajar mbak, hehe. tengkyu ya mba, semoga makin semangat berkarya.

      Hapus
  3. Curhatan awal nulisnya akuuu bangett. Berasa sehati. Gaya bahasanya keren santai eyy. Kayak lagi baca buku diary..

    Semangat nulis ya mbakk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berpelukaan, hihi. ciri khas tulisan ala diary ya mbak. Makasih sudah mampir. Semoga makin semangat ngeblog kitah ya mbak.

      Hapus
  4. Keren tuh mbak, tetap menulis walau gak ada yang baca hehe

    BalasHapus
  5. sejak jaman di kampus sampai sekarang, masih teteap jadi idolaa. Mba septi ayu pancen okeeeee punya!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini pasti Risa, aamiin. Makasih loh Sa udah mampir. :)

      Hapus
  6. Kisah Kaka jadi motivasi lho buat aku.
    Aku gak terlalu mentingin passion sih, tapi kata2 pak stifin emang benar tuh.
    Jadi ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sukses terus ya kak! Semoga kita bisa terus berkarya :)

      Hapus

Posting Komentar