septiayu

Perlukah Persiapan Menyambut Ramadan?

persiapan menyambut ramadan
Apa jawabanmu jika ditanya, perlukah persiapan menyambut Ramadan?
Lantas, apa yang perlu kita lakukan agar Ramadan benar-benar menjadi rahmat, bukan hanya rutinitas tahunan?

Hari ini, kita berada di bulan Sya’ban, bulan yang sering terlewat begitu saja. Padahal, Sya’ban adalah jembatan menuju Ramadan, bulan persiapan yang sangat berharga. Rasulullah SAW sendiri memperbanyak ibadah di bulan ini, justru karena banyak manusia lalai di bulan Sya’ban.

Beribadah di saat orang lain lalai adalah amalan yang besar nilainya. Maka, sebagai seorang penuntut ilmu dan hamba yang bertakwa, kita tidak seharusnya menyia-nyiakan Sya’ban. Inilah waktu terbaik untuk mempersiapkan diri, sebelum Ramadan benar-benar mengetuk pintu.

Allah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an untuk senantiasa mengingat-Nya dengan penuh kesadaran, bukan dengan hati yang lalai.
“Dan sebutlah nama Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, tanpa mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 205)

Seberapa Penting Ramadan di Hati Kita?

Sepenting apa Ramadan bagi kita? Jawabannya tidak terletak pada lisan, tetapi tercermin dari sejauh mana persiapan yang kita lakukan.

Jika Ramadan kita anggap penting, kita akan menyambutnya dengan kesiapan. Namun jika tidak, hari-hari akan berlalu seperti biasa, disibukkan oleh urusan dunia, tanpa merasa perlu menyiapkan apa pun.

Allah SWT berfirman:
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Persiapan adalah cermin ketakwaan. Karena saat kita kehilangan momentum Ramadan, boleh jadi kita tidak mendapatkan apa pun darinya, selain lapar dan dahaga.

Ramadan Butuh Pemanasan

Ibadah itu ibarat perlombaan. Allah memerintahkan kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Ramadan adalah olimpiade para ahli takwa.
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 148)

Adakah atlet yang mengikuti olimpiade tanpa latihan dan pemanasan, lalu berharap mendapat medali emas?

Qatar ditunjuk FIFA sebagai tuan rumah Piala Dunia pada tahun 2010, sementara perhelatan akbarnya baru berlangsung pada 2022. Butuh waktu selama 12 tahun bagi Qatar untuk mempersiapkan diri pada sebuah ajang yang berlangsung kurang lebih satu bulan.

Ramadan pun hanya sekitar 29–30 hari. Jika untuk urusan dunia manusia sanggup menyiapkan diri bertahun-tahun, berapa lama seharusnya kita mempersiapkan diri untuk bekal kehidupan yang abadi?

Dalam dunia olahraga, atlet berlatih bertahun-tahun untuk momen yang hanya berlangsung beberapa detik, misalnya: lari sprint, panjat tebing, atau renang jarak pendek. Semua itu dilakukan demi mencatatkan kemenangan dengan waktu tercepat.

Lalu, mengapa untuk ibadah yang hasilnya menentukan nasib akhirat, kita justru sering setengah-setengah?

Padahal, Ramadan adalah event besar: pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadr.

persiapan menyambut ramadan
Apa yang Perlu Kita Siapkan Menjelang Ramadan?

1. Persiapan Spiritual

Inilah fondasi utama. Membersihkan hati dengan istighfar dan taubat agar hati kembali peka mendengar panggilan Allah.

Hati yang bertakwa adalah hati yang sensitif. Ketika berbuat dosa, ia merasa gelisah. Ketika dosa ditumpuk, hati pun mengeras dan tertutup.

Sayyid Qutb pernah mengatakan, “Manusia akan peka hatinya saat ia bertakwa.”
Tanpa hati yang bersih, ibadah hanya akan menjadi rutinitas tanpa rasa.

2. Persiapan Fisik dan Materi

Puasa, tarawih, tahajud, dan berbagai ibadah membutuhkan tubuh yang sehat. Menjaga asupan makanan bergizi, berolahraga ringan agar tubuh segar, serta menyiapkan perlengkapan ibadah yang nyaman adalah bagian dari ikhtiar agar fisik tidak menjadi penghalang ketaatan.

3. Persiapan Intelektual

Bekal ilmu akan menuntun kualitas ibadah. Membaca buku atau kitab tentang Ramadan, mengikuti kajian jelang Ramadan, dan memperbaiki pemahaman tentang ibadah adalah langkah penting.
Coba kita bertanya jujur pada diri sendiri:
Sudahkah kita rutin tilawah? Sehari berapa halaman atau juz?
Apakah kita terbiasa bangun untuk tahajud?
Bagaimana kualitas salat kita, tepat waktu dan khusyukkah?

Mobil mewah sekali pun, jika berbulan-bulan tidak pernah dipanaskan, lalu tiba-tiba dinyalakan dan dipaksa melaju, jangankan melesat yang terjadi justru mogok. Begitu pula dengan ibadah kita.

Jika hari-hari ini kita masih lalai, jangan berharap bisa langsung kuat beribadah penuh di bulan Ramadan. Maka, sisa hari di bulan Sya’ban inilah waktu kita untuk pemanasan. Karena tiga puluh hari penuh ibadah membutuhkan pembiasaan.

Menyambut Ramadan dengan Hati yang Siap

Ramadan akan datang, entah kita siap atau tidak. Ia tidak menunggu kesiapan kita, tidak pula menyesuaikan diri dengan kelalaian kita. Ramadan selalu setia hadir, membawa cahaya bagi siapa pun yang mau membuka pintu hatinya.

Pertanyaannya, apakah kita sedang menyiapkan hati untuk menyambutnya?

Bukan tentang seberapa banyak target yang kita tuliskan, tetapi seberapa jujur kita memulai. Mungkin hari ini kita belum sempurna. Tilawah masih terseok, salat belum selalu khusyuk, doa pun sering tertunda. Namun selama ada kesadaran untuk memperbaiki diri, Allah akan memberikan jalan.

Sya’ban mengajarkan kita satu hal penting: bahwa perubahan tidak pernah lahir dari lonjakan tiba-tiba, butuh kesungguhan yang dilatih perlahan. Dari istighfar yang diulang-ulang. Dari niat baik yang dijaga, meski dimulai dengan yang sedikit, lantas kita tambah pace-nya hingga menjadi rutinitas.

Mari sambut Ramadan bukan hanya dengan jadwal ibadah, tetapi dengan hati yang direndahkan. Bukan dengan ambisi semata, tetapi dengan kerinduan untuk kembali dekat kepada-Nya.

Semoga ketika Ramadan benar-benar tiba, kita tidak hanya hadir sebagai orang yang berpuasa, tetapi sebagai hamba yang pulang kepada Allah, kepada fitrah, dan kepada diri yang lebih siap dalam beribadah.

Ya Allah, sampaikan kami pada Ramadan, dan sampaikan Ramadan kepada hati kami yang telah Engkau siapkan.


Sumber: Catatan pribadi dari kajian ustaz Nuzul Dzikri dan Ustaz Abdul Hasib.
septi ayu azizah
Septi Ayu Azizah penyuka literasi, volunteer dan pendidikan. Penikmat jalan-jajan ini suka berpindah-pindah tempat tinggal, dan menceritakan perjalanan hidupnya di sini. Aktivitas Septi sebagai guru, volunteer dan pegiat literasi.
Terbaru Lebih lama

Related Posts

Posting Komentar