septiayu

Merayakan Cinta: Surat Cintaku untuk Kekasih

surat cintaku
Merayakan cinta identik dengan momen memperingati hari mengikat janji, hari di mana terucapnya akad nan suci bagi sepasang kekasih. Namun, lebih banyak lagi yang tak perlu menunggu momen spesial untuk terus merayakan cinta, demi cinta yang terus bersemi tiada henti.

Terinspirasi dari romantisme Alm. B. J. Habibie yang menuliskan surat cintanya untuk istri yang amat ia cintai, Ibu Ainun, sungguh membuatku jatuh hati, ingin kutuliskan sebuah surat cinta untuk kekasih hati. Surat cinta yang menjadi pengungkap segala asa dan rasa. Tentu, menuliskan surat cinta bukan hanya untuk pasangan yang sedang kasmaran oleh cinta yang belum halal. Kepada pasangan halal, kita bisa menuliskannya setiap waktu, demi cinta yang terawat.

Demi terawatnya cinta, kali ini ingin kutuliskan sebuah surat cinta untuk kekasih hati. Untukmu, wahai seorang yang belum lama kukenal, namun begitu banyak mengubahku, hidupku, dan segala mimpiku. Kutuliskan surat cinta ini, untuk merayakan segenap rasa yang belum lama kita rajut bersama.

Surat Cintaku untuk Kekasih

Jikalau benar sepuluh sebagai bilangan sempurna, maka telah kita lewati batas sempurna, mengingat, berpuluh purnama yang telah kita jalani bersama. Tiap-tiap purnama yang tak terlewat kecuali oleh cerita yang berbaris tanpa putus. Pada awal purnama, penanda manisnya kebersamaan, pada bilangan ganjil-genap berikutnya yang berpeluh suka dan duka.

Jika datangnya purnama seumpama penanda benderangnya malam yang gulita, menjadi penanda manis dan riuh bahagianya kebersamaan. Maka, hilangnya purnama seumpama kemurungan. Duka yang menjalar memainkan masa yang berputar. Begitukah hidup kita? Hidup yang kita jalani berdua, berdua saja memaknai manis-getir, gelap-terang, untuk kemudian menjadi ranum. Sempurna untuk dikenang dalam ingatan.
merayakan cinta
"Aku tak sempurna." begitu katamu dalam suatu waktu.

Ketidaksempurnaan kita melengkapi detik yang terus bergerak. Kau dan aku, tak pernah tahu ujung dari perjalanan. Tapi, katamu lagi, kita tak sedang mencari ujung. Kita tengah menyusun tiap keping waktu untuk membentangkan apa yang digariskan pada diri berdua. Jika kita harus mencapai ujung, pastikan ujungnya adalah tempat kita kembali pada hakikat yang paling hakikat, Sang Pemilik Perjalanan. Begitu, kata-katamu mengalir, menghadirkan ketenangan.

“Aku tak seindah yang kau impikan." Begitu kataku di awal purnama. Tak kusangka, jawabanmu seperti sihir yang memainkan melodi indah tertangkap telinga. Kita adalah tentang mimpimu dan mimpiku yang berkumpul dalam sekotak ragu. Kenapa ragu? Karena ragu menjadi pengingat kita dalam setiap langkah. Bisa jadi, dalam menuju tiap mimpi-mimpi kita, ada kegagalan-kegagalan yang menemani, tapi ingat, kita tak pernah menutup kotak mimpi. Karena optimisme bertebaran di luar batas keraguan kita. Sedang ragu, ia seperti mimpi berbentuk imaji, hanya satu batasnya untuk ia agar sempurna menggenggam nyata. Siapa dia? Dialah prasangka.

Ragu, penyesalan, kecewa, mereka semua berkumpul dalam kotak besar prasangka. Benar, prasangka suka sekali mengotak-ngotakan pesimisme dan menghimpunnya dalam satu ruang besar bernama prasangka. Dan kita, kita yang hanya berdua, adalah kita yang menghancurkan tiap kotak pesimisme. Menghabisi prasangka yang tak pernah berwujud baik.

Kita adalah penggenap, menggenapkan seluruh Titah-Nya, meski tertatih, meski berpeluh. Terima kasih telah menjadi bagian terindah, satu sama lain. Menggenap di bilangan purnama yang genap. Menuju sempurna, sempurna pada bilangan yang dianggap sempurna.
Untukmu, yang selalu mengantarku menuju kembali, pada hakikat yang paling hakikat, kembali kepada Titah-Nya.

 Secangkir Semangat, Merayakan Cinta yang Hangat

perayaan cinta

Tak perlu sebuah perayaan, begitu katamu sekali waktu. Namun, kita bahkan tak pernah mampu melewatkan perayaan tanpa kebersamaan. Meski sekedar kebersamaan meneguk secangkir kopi di bawah rinai hujan bulan Juni, bulan kita memadu kasih. 

Seringkali menguap kelakar tentang secangkir rasa dalam setiap teguk kopi yang kita nikmati. Beda kecap antara kau dan aku mematahkan bantahan satu sama lain. Untuk satu rasa yang kau anggap manis, tak begitu bagiku. Untuk mengingat dan mengenang setetes rasa yang menggenang di balik lidah, semua berspekulasi tentang rasa-rasa lain yang tak terbayangkan sebelumnya. Namun, untuk secangkir semangat hanya satu yang tak boleh berbantah, biarkan ia menjadi rasa yang mengendap untuk kemudian dikenang. Karena hakikat yang lalu adalah kenangan.

Semua cerita tentang keresahan dan keraguan yang pahit membekas dalam satu daging tak bertulang. Meresap memenuhi sudut yang tak bertuan. Tentang secangkir rasa yang terkuak, seolah berbaur memenuhi satu ruang yang tak terjamah oleh rasa sebelumnya.

Padahal, tak ada kelabu untuk satu rasa itu. hanya saja untuk sebuah pengakuan atas satu rasa yang terlanjur membekas adalah kesulitan yang tak berujung. Entah apa dan akan ke mana rasa ini. sekali teguk tak berurai, dua kali tak tercerahkan, berkali-kali ia semakin mengusik resah tak berkesudahan.

Lalu, pada senja yang malu menggantung rindu, mengubah kita menjadi letupan semangat yang menghambur di sudut ruang tak bercelah. Bentukmu larut, tak lagi terlihat oleh mata yang tak berpihak. Racikan yang kupilih sempurna pekat dengan sedikit rasa manis. Seperti kisah cintaku, pahit dirasa berhamburan, menyisakan manis yang samar di ujung lidah. Ya, yang samar bukan berarti terlupakan bukan? Yang pahit bukan berarti tak nikmat bukan? 

Begitulah kita, merayakan cinta lewat racikan secangkir semangat yang kita hirup setiap pagi. Mengantarkan relaksasi agar kita mampu menempuh perjalanan panjang yang telah kita impikan sedari pagi. Kita akan merindu, merindui masa-masa sulit yang menggetarkan hati. Merindui tiap kenangan yang telah jauh terlewati.

Satu hal yang tak boleh terganti, tak akan terlupa, betapa hati-hati ini telah terikat pada janji suci. Tak ada khianat untuknya, meski boleh saja ia berubah. Berubah menjadi berlipat kasih tuk terus dirayakan tanpa kenal hari. Selamat merayakan cinta setiap hari, untukmu kutuliskan surat cinta ini, wahai kekasih hati.

Oke sob, bagaimana, sudahkah menulis surat cinta untuk kekasih? Kadang kala, kita tak perlu perayaan mewah untuk merayakan cinta. Sekedar menuliskan surat cinta sepenuh hati, bisa menjadi kado istimewa yang menebar aroma hangat romantisme. Lalu, tidak ada tips khusus untuk menulisnya, cukuplah melibatkan seratus persen hatimu pada surat cinta yang kau tulis. Karena yang dari hati, selalu sampai ke hati. Selamat merayakan cinta sob!
septi ayu azizah
Septi Ayu Azizah penyuka literasi, volunteer dan pendidikan. Penikmat jalan-jajan ini suka berpindah-pindah tempat tinggal, dan menceritakan perjalanan hidupnya di sini. Aktivitas Septi sebagai guru, volunteer dan pegiat literasi.

Related Posts

28 komentar

  1. Terhanyut eung bacanya. Nggak terasa udah sampai bawah aja. Kata² bagus, puitis, romantis, bikin meringis sendiri pas baca. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe, thanks yaah mbaaak. Selamat bernostalgia dengan segenap perasaan yang membuncah di jiwa. wkwkwk

      Hapus
  2. Yaa ampuuun, berasa lagi baca apa ya namanya itu, sajak? Aaahh pokoknya itulah. Aku bingung apa namanya.

    Aku yg baca berasa kayak lg terseret ombak dlm untaian puluhan kalimat indah, puitiissss ❤️❤️ *caelaahhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duuuh, apa yah namanya Mbak Pidaaa. Tararenkyu loh mbak, komennya bikin moodboster melesat. hihihi

      Hapus
  3. Beruntung sekali pria yang ada di cerita itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga gitu ya kak, nanti eike sampaikan ke doi. wkwkwk

      Hapus
  4. Ya Allah daleeem banget, aku suka kagum dengan seseorang yang mahir merangkai kata sedimikian indahnya. Bisa bangeet sih mbak septi bikinnya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, semua bisa nulis begitu mba, apalagi buat yang lagi kasmaran. hehe

      Hapus
  5. Baarakallaah fiikum❤️
    Gemes ih tulisannya jadi makin puitis. Maapin aku masih uwuphobia, geli baca yang romantis romantis🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwkwk, mpoook, cukup tau deh yaa... Pokoknya ikutin terus #serialnikah biar uwuuuwnya terus-terusan.

      Hapus
  6. MasyaAllah dalem banget mba, intinya tentang keraguan kah ini? Semoga Allah memudahkan segala urusan mba septi ya, termasuk urusan asmara hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pembaca bebas berekspektasi, mengartikan, memahami tulisan di sini mbaaak, hewhew. Aamiin, jazakillah doanya mbaak Ummm

      Hapus
  7. Uwwwu💕 siapa sih laki2 beruntung itu hihi.
    Berasa baca puisi aku, aih dalemnya...
    Ini dari lubuk hati yg paling dalam ya ka pasti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wkwkwk, gimana mbak Yul, apakah kusudah berhasil menyebar virus romantis? wkwkwk.
      yang dari hati semoga sampai ke hati. hehe

      Hapus
  8. so sweat, koq aku ingin meneteskan air mata haru.
    lembut dah bacanya kaya gimana ya, aah begitulah pokoknya love love dah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun nulisnya sambil berkaca-kaca sesak mbaak Vi...hehehe
      Terima kasih sudah mampir ya mbaak

      Hapus
  9. Ini puitis banget, seperti terhanyut dalam sungai yang tenang namun mengalir lancar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, semoga suka ya buun, tulisan milenial, hehe

      Hapus
  10. Masyaallah dah banyak yang komen. Padahal gak disuruh BW ya....
    Barakallah mbak Septi, keren lah kalau buat fiksi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena kemarin diikutkan agenda BW grup kita buu. hehehe
      Aamiin, Jazakilah bu Lillah :)

      Hapus
  11. Duh, sweeet amat. Aku jadi pengen bikin surat cinta juga jadinya... :)

    BalasHapus
  12. Sweet banget mba... Puisi untuk kekasih hati. Berkesan banget pasti doi dikasih kado ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, diketawain iya mba. hahaha. Terima kasih mbak, sudah mampir :)

      Hapus
  13. Ihirrr hehehhee... ini challenge apaan ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Challenge merayakan cinta ustazah Lillah mbaak, hadiahnya baju renang muslimah. hehe

      Hapus
  14. ah so sweet sekali tulisan ini, sepertinya aku harus bikin juga surat cinta buat istriku nih. Terima kasih kak Septi untuk inspirasi yang luar biasa dengan surat cintanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau sudah ditulis posting ke blog ya Pak Yonal, nanti saya mampir, insyaAllah :)

      Hapus

Posting Komentar